Sabtu, 20 April 2013

Renungan GMIM 21-27 April

TEMA BULANAN:
"Kuasa Kebangkitan Kristus memberi Kemenangan"

TEMA MINGGUAN:
"Kalahkan kejahatan dengan kebaikan"

Bahan Alkitab: Amsal 3:27-35; Roma 12:9-21

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Tema bulanan di April 2013 ini adalah"Kuasa kebangkitan Yesus memberi kemenangan". Dengan teman ini diharapkan gereja/orang-orang percaya dapat mengalahkan kuasa dosa/keinginan daging karena dengan kebangkitan Yesus, manusia didamaikan dengan Allah, sesama manusia dan alam. Tema ini juga diharpakan dapat menerangi orang-orang percaya untuk memahami seluruh kehendak firman-Nya dan merubah nilai dan sikap hidup. Adapun tema mingguan adalah "kalahkanlah kejahatan dengna kebaikan". Tema ini diangkat dari teks Amsa 3:27-35 dan Roma 12:9-21. Dari tema mingguan ini diharapkan orang percaya hidup dalam kebaikan sebagai jawaban atas kebangkita Kristus karena Allah membenci kejahatan tapi mencintai kebaikan. Orang percaya juga dinasihati untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan siap menghadapi persoalan apapun tanpa kekerasan.

PEMBAHSAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Di dalam Amsal pasal 3, HIKMAT menampilkan dirinya seperti seorang ayah, karena itu ia menyapa pendengarnya dengan akrab "anak-ku". Melalui sapaan akrab ini menganjurkan bahwa pengajaran yang bertujuan mengarahkan eksistensi hidup manusia harus dilakukan dengan akrab. Dalam bacaan ini, HIKMAT menganjurkan pendengarnya untuk berbuat baik. Anjuran-anjuran ini berisi larangan - tipikal ayah yang melarang anaknya untuk tidak ini/itu yang dimulai dengan kata larangan "janganlah". Ada lima anjuran dalam bacaan ini yang dimulai dengan kata larangan yaitu pada ayat 27, 28, 29, 30 dan 31. Kelima anjuran ini bertujuan mengatur "relasi" dengan sesama. Kelima anjuran - berturut-turut - dari pengamsal sifatnya bersyarat: (i) kebaikan jangan ditahan jika mampu dilakukan; (ii) jangan memberi janji jika engkau memiliki apa yang diminta; (iii) jangan merencananakan yang jahat sedangkan sesamamu tinggal bersama engkau tanpa curiga; (iv) jangan bertengkar dengan seseorang jika ia tidak berbuat jahat kepadamu; (v) jangan iri kepada orang lalim karena itu kekejian bagi TUHAN. Makna dari anjuran-anjuran ini adalah untuk menarik perhatian pendengar supaya tidak pernah menahan atau menunda untuk berbuat baik. Berbuat baik itu harus se-segera mungkin karena TUHAN Mahatahu.

Ayat 33-35 memberikan jaminan kepada pendengar-pendengar yang mau mengikuti anjurannya yaitu: TUHAN bergaul erat dengan orang yang jujur; memberkati tempat kediaman orang benar; dan mengasihani orang yang rendah hati. Keseluruhan anjuran itu bertujuan untuk sampai pada maksud ini, ditambah lagi denga keyakinan pengamsal kalau "orang yang bijak akan mewarisi kehormatan". Intonasi ini menunjukkan adanya harapan gemilang di hari depan bagi orang-orang -  bijak - yang mau mendengarkan dan mempraktekkan anjuran HIKMAT, karena dengan mengikuti anjurannya orang diantar pada sebuah relasi harmonis baik itu secara vertikal dengan TUHAN maupun secara horizontal dengan sesamanya.

Di dalam Roma 12:9-21, Paulus memberi nasihat kepada jemaat di Roma untuk hidup dalam kasih. Nasihat ini harus dikaitkan dengan tujuan nasihat rasul Paulus yang menitikberatkan pada kesatuan dan persatuan gereja sebagai "satu tubuh" di dalam Kristus. Sebagai satu tubuh, maka peran setiap anggota tubuh yang beragam harus dipandang dalam kesatuan sebagai tindakan melayani kepentingan "tubuh" sebagai satu kesatuan. Apabila jemaat di Roma menjadi kisruh karena berbagai pertentangan, sudah tentu akan melahirkan preseden bruk bagi gereja dan wibawa Paulus sebagai rasul. Karenanya kasih adalah perekat utama untuk mengantisipasi konflik yang bakal terjadi akibat perbedaan pandangan internal gereja. Dengan alasan inilah maka kasih menjadi penting sebagai landasan pola pikir dan pola laku anggota-anggota tubuh Kristus. Dengan mempraktekan kasih dalam maknanya yang paling hakiki (agape) maka tidak ada orang yang akan merasa dirinya lebih pandai dari yang lain, sebab eksistensi diri - tubuh, jiwa dan roh - dari setiap orang ditundukan pada ketulusan pada ketulusan untuk saling mengasihi dan saling mendahului dalam memberi hormat. Hal ini sudah tentu akan membangkitkan gairah untuk masuk dalam kehidupan yang berbasis pada ke-setia-an, ke-sepikir-an dalam hidup bersama. Apabila kasih menjadi fondasi maka kedamaian dipandang sebagai efek yang ditimbulkan dari perilaku hidup di dalam kasih itu. Pesan dalam ayat 17:21 adalah pola hidup yang ditawarkan oleh rasul Paulus kepada "anggota-anggota tubuh Kristus yang hidup di dalam kasih" ketika berhadapan dengan orang-orang yang menolak untuk hidup dalam kasih Kristus. Orang-orang yang masih hidup dalam kungkungan dosa memiliki kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri dan menganggap dirinya jauh lebih pandai dari orang lain. Pola hidup yang demikian rawan terjerumus dalam kuasa iblis rentan dipakai untuk menyakiti sesama dan cenderung bertindak tidak dalam koridor menghargai sesama. Berhadapan dengan orang-orang demikian, pengikut Kristus diajak untuk mengalah dan mengupayakan perdamaian, karena dengan bersikap demikian maka pengikut Kristus memberi ruang bagi Allah untuk bertindak dalam keadilan-Nya. Pola hidup di dalam kasih pada puncaknya menjadi semakin ekstrim yaitu dengan "berbuat baik kepada musuh". Mengasihi adalah tanda bahwa pengikut Kristus berkehendak untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Pada tahap inilah maka kasih Kristus menjadi nyata dan sempurna karena Kristus telah meneladankan itu - melalui pengorbanan-Nya, supaya pengikutNya dikuatkan untuk sampai pada tahap ini.

Makna dan Implikasi Firman
Ajaran Kristen menuntut pengikutnya untuk hidup "menyerupai" Kristus atau meniru Kristus (Imitatio Christi). Proses untuk menyerupai Kristus bukanlah proses gampang karena sebagaimana Kristus telah memberikan diriNya untuk menebus umat manusia, maka sikap "memberikan diri" ini harus mewarnai perjalanan hidup setiap individu yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus. Arena untuk mempraktekan "Imitatio Christi" ini adalah dunia. Dunia adalah tempat di mana setiap pengikut Kristus hidup, bekerja, berelasi, dan mempraktekan imannya kepada Kristus. Kristus dapat digambarkan sebagai "HIKMAT" yang memberi petunjuk tentang tata aturan hidup baik dan benar. Kebaikan-Nya dinyatakan melalui mujizat-mujizat yang dikerjakan-Nya, rela menebus dosa manusia dengan darah-Nya, serta melalui penyertaan-Nya atas kehidupan setiap orang beriman. Petunjuk hidup Kristus menjadi standar untuk menilai seberapa dekat kita mengimitasi pola hidup Kristus. Bacaan di atas menyentil tentang bagaimana "kebaikan" harus dilakukan se-segera mungkin tanpa penundaan. Kristus telah melakukan hal ini dengan sempurna. Hal ini dinyatakan dengan integritasNya kepada BAPA di Sorga untuk meminum cawan penderitaan danmenjadi tebusan bagi umat manusia tanpa menunda-nunda. Pada titik inilah maka maksud kedatangan Kristus ke dunia tercapai. Kebaikan Allah dinyatakan melalui pengorbanan Kristus. Kebaikan sudah tentu mengandalkan "pengorbanan"; ketika kita mau berbbuat baik maka kita sedang "mengorbankan" sesuatu demi kebaikan itu. Contohnya, ketika si A mau mendonorkan darah bagi PMI, maka ia secara sukarela memberikan sebagian dari dirinya untuk alansan tersebut. Kebaikan Kristus tidak mengandaikan adanya "syarat" karena hal itu berdasar pada "agape" - kasih yang tak menuntut balas. Dalam kerangka "Imatatio Christi", maka diharapkan pengikut-pengikut Kristus dapat mempraktekan laku hidup yang melakukan kebaikan tanpa syarat itu. Sikap rendah hati dan mau saling menghargai menjadi "wajib", karena hanya dengan cara itu - mencontoh sikap Kristus - maka eksistensi jemaat Tuhan dapat terpelihara. Kasih dan kebaikan niscaya merupakan semprotan air yang dapat memadamkan api yang disemburkan oleh si jahat iblis melalui antek-anteknya.

PERTANYAAN DISKUSI
1). Apakah arti "mengasihi" bagi saudara menurut bacaan Alkitab ini? Dan pernahkan saudara menganggap "mengasihi" itu hanya sebuah konsep tanpa makna? Mengapa?
2). Apakah arti "kejahatan" bagi saudara? Apakah ada "kejahatan" yang tidak termaafkan menurut saudara? Mengapa?

TEMA BULANAN:
"Kuasa Kebangkitan Kristus memberi Kemenangan"

TEMA MINGGUAN:
"Kalahkan kejahatan dengan kebaikan"

Bahan Alkitab: Amsal 3:27-35; Roma 12:9-21

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Tema bulanan di April 2013 ini adalah"Kuasa kebangkitan Yesus memberi kemenangan". Dengan teman ini diharapkan gereja/orang-orang percaya dapat mengalahkan kuasa dosa/keinginan daging karena dengan kebangkitan Yesus, manusia didamaikan dengan Allah, sesama manusia dan alam. Tema ini juga diharpakan dapat menerangi orang-orang percaya untuk memahami seluruh kehendak firman-Nya dan merubah nilai dan sikap hidup. Adapun tema mingguan adalah "kalahkanlah kejahatan dengna kebaikan". Tema ini diangkat dari teks Amsa 3:27-35 dan Roma 12:9-21. Dari tema mingguan ini diharapkan orang percaya hidup dalam kebaikan sebagai jawaban atas kebangkita Kristus karena Allah membenci kejahatan tapi mencintai kebaikan. Orang percaya juga dinasihati untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan siap menghadapi persoalan apapun tanpa kekerasan.

PEMBAHSAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Di dalam Amsal pasal 3, HIKMAT menampilkan dirinya seperti seorang ayah, karena itu ia menyapa pendengarnya dengan akrab "anak-ku". Melalui sapaan akrab ini menganjurkan bahwa pengajaran yang bertujuan mengarahkan eksistensi hidup manusia harus dilakukan dengan akrab. Dalam bacaan ini, HIKMAT menganjurkan pendengarnya untuk berbuat baik. Anjuran-anjuran ini berisi larangan - tipikal ayah yang melarang anaknya untuk tidak ini/itu yang dimulai dengan kata larangan "janganlah". Ada lima anjuran dalam bacaan ini yang dimulai dengan kata larangan yaitu pada ayat 27, 28, 29, 30 dan 31. Kelima anjuran ini bertujuan mengatur "relasi" dengan sesama. Kelima anjuran - berturut-turut - dari pengamsal sifatnya bersyarat: (i) kebaikan jangan ditahan jika mampu dilakukan; (ii) jangan memberi janji jika engkau memiliki apa yang diminta; (iii) jangan merencananakan yang jahat sedangkan sesamamu tinggal bersama engkau tanpa curiga; (iv) jangan bertengkar dengan seseorang jika ia tidak berbuat jahat kepadamu; (v) jangan iri kepada orang lalim karena itu kekejian bagi TUHAN. Makna dari anjuran-anjuran ini adalah untuk menarik perhatian pendengar supaya tidak pernah menahan atau menunda untuk berbuat baik. Berbuat baik itu harus se-segera mungkin karena TUHAN Mahatahu.

Ayat 33-35 memberikan jaminan kepada pendengar-pendengar yang mau mengikuti anjurannya yaitu: TUHAN bergaul erat dengan orang yang jujur; memberkati tempat kediaman orang benar; dan mengasihani orang yang rendah hati. Keseluruhan anjuran itu bertujuan untuk sampai pada maksud ini, ditambah lagi denga keyakinan pengamsal kalau "orang yang bijak akan mewarisi kehormatan". Intonasi ini menunjukkan adanya harapan gemilang di hari depan bagi orang-orang -  bijak - yang mau mendengarkan dan mempraktekkan anjuran HIKMAT, karena dengan mengikuti anjurannya orang diantar pada sebuah relasi harmonis baik itu secara vertikal dengan TUHAN maupun secara horizontal dengan sesamanya.

Di dalam Roma 12:9-21, Paulus memberi nasihat kepada jemaat di Roma untuk hidup dalam kasih. Nasihat ini harus dikaitkan dengan tujuan nasihat rasul Paulus yang menitikberatkan pada kesatuan dan persatuan gereja sebagai "satu tubuh" di dalam Kristus. Sebagai satu tubuh, maka peran setiap anggota tubuh yang beragam harus dipandang dalam kesatuan sebagai tindakan melayani kepentingan "tubuh" sebagai satu kesatuan. Apabila jemaat di Roma menjadi kisruh karena berbagai pertentangan, sudah tentu akan melahirkan preseden bruk bagi gereja dan wibawa Paulus sebagai rasul. Karenanya kasih adalah perekat utama untuk mengantisipasi konflik yang bakal terjadi akibat perbedaan pandangan internal gereja. Dengan alasan inilah maka kasih menjadi penting sebagai landasan pola pikir dan pola laku anggota-anggota tubuh Kristus. Dengan mempraktekan kasih dalam maknanya yang paling hakiki (agape) maka tidak ada orang yang akan merasa dirinya lebih pandai dari yang lain, sebab eksistensi diri - tubuh, jiwa dan roh - dari setiap orang ditundukan pada ketulusan pada ketulusan untuk saling mengasihi dan saling mendahului dalam memberi hormat. Hal ini sudah tentu akan membangkitkan gairah untuk masuk dalam kehidupan yang berbasis pada ke-setia-an, ke-sepikir-an dalam hidup bersama. Apabila kasih menjadi fondasi maka kedamaian dipandang sebagai efek yang ditimbulkan dari perilaku hidup di dalam kasih itu. Pesan dalam ayat 17:21 adalah pola hidup yang ditawarkan oleh rasul Paulus kepada "anggota-anggota tubuh Kristus yang hidup di dalam kasih" ketika berhadapan dengan orang-orang yang menolak untuk hidup dalam kasih Kristus. Orang-orang yang masih hidup dalam kungkungan dosa memiliki kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri dan menganggap dirinya jauh lebih pandai dari orang lain. Pola hidup yang demikian rawan terjerumus dalam kuasa iblis rentan dipakai untuk menyakiti sesama dan cenderung bertindak tidak dalam koridor menghargai sesama. Berhadapan dengan orang-orang demikian, pengikut Kristus diajak untuk mengalah dan mengupayakan perdamaian, karena dengan bersikap demikian maka pengikut Kristus memberi ruang bagi Allah untuk bertindak dalam keadilan-Nya. Pola hidup di dalam kasih pada puncaknya menjadi semakin ekstrim yaitu dengan "berbuat baik kepada musuh". Mengasihi adalah tanda bahwa pengikut Kristus berkehendak untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Pada tahap inilah maka kasih Kristus menjadi nyata dan sempurna karena Kristus telah meneladankan itu - melalui pengorbanan-Nya, supaya pengikutNya dikuatkan untuk sampai pada tahap ini.

Makna dan Implikasi Firman
Ajaran Kristen menuntut pengikutnya untuk hidup "menyerupai" Kristus atau meniru Kristus (Imitatio Christi). Proses untuk menyerupai Kristus bukanlah proses gampang karena sebagaimana Kristus telah memberikan diriNya untuk menebus umat manusia, maka sikap "memberikan diri" ini harus mewarnai perjalanan hidup setiap individu yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus. Arena untuk mempraktekan "Imitatio Christi" ini adalah dunia. Dunia adalah tempat di mana setiap pengikut Kristus hidup, bekerja, berelasi, dan mempraktekan imannya kepada Kristus. Kristus dapat digambarkan sebagai "HIKMAT" yang memberi petunjuk tentang tata aturan hidup baik dan benar. Kebaikan-Nya dinyatakan melalui mujizat-mujizat yang dikerjakan-Nya, rela menebus dosa manusia dengan darah-Nya, serta melalui penyertaan-Nya atas kehidupan setiap orang beriman. Petunjuk hidup Kristus menjadi standar untuk menilai seberapa dekat kita mengimitasi pola hidup Kristus. Bacaan di atas menyentil tentang bagaimana "kebaikan" harus dilakukan se-segera mungkin tanpa penundaan. Kristus telah melakukan hal ini dengan sempurna. Hal ini dinyatakan dengan integritasNya kepada BAPA di Sorga untuk meminum cawan penderitaan danmenjadi tebusan bagi umat manusia tanpa menunda-nunda. Pada titik inilah maka maksud kedatangan Kristus ke dunia tercapai. Kebaikan Allah dinyatakan melalui pengorbanan Kristus. Kebaikan sudah tentu mengandalkan "pengorbanan"; ketika kita mau berbbuat baik maka kita sedang "mengorbankan" sesuatu demi kebaikan itu. Contohnya, ketika si A mau mendonorkan darah bagi PMI, maka ia secara sukarela memberikan sebagian dari dirinya untuk alansan tersebut. Kebaikan Kristus tidak mengandaikan adanya "syarat" karena hal itu berdasar pada "agape" - kasih yang tak menuntut balas. Dalam kerangka "Imatatio Christi", maka diharapkan pengikut-pengikut Kristus dapat mempraktekan laku hidup yang melakukan kebaikan tanpa syarat itu. Sikap rendah hati dan mau saling menghargai menjadi "wajib", karena hanya dengan cara itu - mencontoh sikap Kristus - maka eksistensi jemaat Tuhan dapat terpelihara. Kasih dan kebaikan niscaya merupakan semprotan air yang dapat memadamkan api yang disemburkan oleh si jahat iblis melalui antek-anteknya.

PERTANYAAN DISKUSI
1). Apakah arti "mengasihi" bagi saudara menurut bacaan Alkitab ini? Dan pernahkan saudara menganggap "mengasihi" itu hanya sebuah konsep tanpa makna? Mengapa?
2). Apakah arti "kejahatan" bagi saudara? Apakah ada "kejahatan" yang tidak termaafkan menurut saudara? Mengapa?

Jumat, 19 April 2013

Renungan Kristen: Pengkultusan = sumber perpecahan

Baca:
1 Korintus 1:10-17

Salah satu penyebab perpecahan dalam jemaat Korintus adalah klaim-klaim golongan. Klaim itu didasarkan pada penghormatan jemaat yang terlalu berlebihan terhadap pemimpin mereka. Akibatnya mereka jadi tidak menghargai pemimpin yang lain. Di sisi lain, pemujaan berlebihan terhadap pemimpin secara tidak langsung bisa saja merupakan manifestasi dari pemujaan diri, sebagai pengikut sang pemimpin.

Paulus menasihati mereka dalam suasana kekeluargaan. Ini terlihat dari sapaan "saudara-saudara" yang muncul sebanyak dua puluh satu kali. Paulus seolah ingin menegaskan bahwa di tengah ancaman perpecahan, persaudaraan di dalam Kristus tidak dapat dibatalkan. Oleh alasan itu pula, Paulus mengingatkan mereka untuk sehati sepikir di dalam Kristus. Terjemahan yang lebih tepat sebenarnya adalah "milikilah gaya hidup Kristus secara terus menerus". Hanya dengan gaya hidup Kristuslah maka di dalam perbedaan pun, persatuan dapat dimiliki oleh orang percaya. Cara Paulus menasihati jemaat Korintus pun sangat objektif. Ini terlihat dari penggunaan frasa "demi Kristus". Terlihat bahwa Paulus tidak memihak salah satu kelompok.

Nasihat kedua adalah supaya jangan ada perpecahan di antara mereka. Jelas perpecahan bukanlah ciri anak-anak Tuhan. Dan yang ketiga, Paulus menasihati mereka supaya erat bersatu dan sehati sepikir. Sehati sepikir merujuk pada kedewasaan berpikir.

Selanjutnya Paulus masuk ke dalam persoalan yang dihadapi jemaat Korintus dalam bagian ini (12-14), yaitu perselisihan mengenai para pemimpin. Ini dapat kita lihat dari perkataan "aku dari golongan...". Mereka melibatkan nama pemimpin mereka padahal sang pemimpin tidak terlibat dalam perselisihan itu. Cara berpikir seperti ini jelas tidak dewasa dan akan membawa perpecahan.

Maka janganlah berlebihan dalam mengapresiasi pemimpin jemaat. Pengkultusan pemimpin, walaupun pemimpin rohani/ jemaat, bisa saja mengarah pada persaingan yang tidak sehat dan dapat berujung pada perpecahan. Kiranya kita mewaspadai hal ini sehingga hanya memuliakan Kristus, Pemimpin jemaat yang sejati.

Renungan Kristen: Fokus pada Kristus

Baca:1 Korintus 1:1-9
___________________
Ketika terjadi masalah di sebuah jemaat, biasanya anggota jemaat maupun sesama Kristen akan lebih mudah mengeluh atau mengritik. Sedikit sekali orang yang mau ikut serta sumbang saran dan terlibat dalam upaya perbaikan.

Paulus menulis suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus dalam rangka menanggapi permasalahan yang muncul di dalam jemaat itu. Di bagian awal suratnya, Paulus menyatakan bahwa para pembaca suratnya, yaitu jemaat Korintus, adalah orang-orang kudus (2). Karena itu Paulus mengucap syukur karena ia tahu bahwa Allah telah melimpahi mereka dengan berbagai anugerah (4-6), yang telah membuat mereka menjadi kaya dalam berbagai perkataan dan pengetahuan. Ini terlihat dari karunia-karunia rohani yang telah mereka terima di dalam Kristus, yang merupakan peneguhan kebenaran Injil. Memang pemberian karunia merupakan salah satu cara Allah menyatakan kebenaran Injil pada zaman gereja mula-mula. Karunia-karunia tersebut merupakan pendahuluan dari kegenapan yang akan mereka alami saat kedatangan Kristus yang kedua kali kelak.

Ya, meskipun ada masalah yang sedang dihadapi jemaat Korintus, Paulus menyatakan keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka sehingga mereka tak bercacat pada hari Tuhan kelak (8).

Penekanan pada nama Tuhan Yesus Kristus, yang telah memanggil, menguduskan, serta menganugerahi jemaat Korintus dengan berbagai karunia memperlihatkan keyakinan Paulus untuk melihat permasalahan yang dihadapi jemaat Korintus dari sudut pandang Kristus. Sehingga titik awal Paulus dalam memandang masalah yang dihadapi jemaat Korintus tersebut adalah ucapan syukur kepada Allah.

Surat Paulus ini kiranya menolong kita ketika berhadapan dengan masalah-masalah di dalam jemaat. Ingat, jangan letakkan fokus perhatian kita pada masalah yang menghadang kehidupan dan kemajuan jemaat, melainkan pada Kristus, yang berkuasa memanggil dan menguduskan, serta menganugerahi jemaat dengan berbagai karunia bagi kemuliaan nama-Nya.

Kamis, 18 April 2013

Renungan Kristen: Misi seperti apa?

Bacaan: Roma 16:25-27
____________
Bagian ini merupakan penutup dari surat Paulus kepada jemaat di Roma, tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Pada bagian penutup suratnya, Paulus menuliskan doksologi (puji-pujian kepada Tuhan), bukan doa berkat seperti yang biasa ia tuliskan pada surat-surat kiriman yang lain (1Kor 13:13; Gal 6:18).

Doksologi yang terdapat pada ayat 25-27 terkesan merupakan pengulangan dari ayat 20. Tampaknya ayat 20 merupakan akhir dari surat kiriman ini, tetapi kemudian Paulus teringat untuk menyampaikan salam dari rekan-rekan sekerjanya untuk jemaat di Roma. Setelah rangkaian salam yang terakhir (21-23) barulah Paulus menuliskan doksologi.

Kalimat puji-pujian yang mengakhiri surat kiriman Paulus kepada jemaat di Roma mengungkapkan pemahaman Paulus akan penyertaan Allah dalam pekabaran Injil yang telah dilakukan di Roma. Paulus sadar bahwa apa yang terjadi di Roma bukan karena kehebatan dan kuasa pekabar Injil yang telah bekerja sedemikian keras, melainkan karena campur tangan Allah belaka. Semua itu karena anugerah Allah, dan yang pasti karena Allah mengasihi umatnya, secara khusus umat Allah yang berdiam di Roma.

Ada tiga hal yang Paulus sampaikan melalui doksologi ini.

Pertama, Injil yang berarti "kabar baik" merupakan penyingkapan dari suatu rahasia yang telah tersembunyi berabad-abad lamanya, yaitu rahasia tentang karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Kedua, Paulus menyadari bahwa pekabaran Injil adalah perintah Allah sendiri. Maka seluruh pemberitaan Injil harus bermuara pada kemuliaan Tuhan, Allah yang memberi perintah. Dialah satu-satunya Allah dan tidak ada seorang pun yang pantas mencuri kemuliaan-Nya. Ketiga, jangkauan pemberitaan Injil haruslah meliputi "segala bangsa." Harus diakui bahwa belum semua gereja mempunyai visi ini. Karena itu kita perlu berdoa agar gereja-gereja memiliki beban ini dan giat bermisi "sampai ke ujung bumi", menjangkau jiwa-jiwa sampai ke pelosok-pelosok, kepada semua suku di segala tempat.

Selasa, 16 April 2013

3 Tipe Gereja di Akhir Zaman

Tanda-tanda akhir zaman mendahului kedatangan Tuhan Yesus. Dalam Matius 24ada berbagai tafsiran yang dikemukakan oleh hamba-hamba Tuhan dari berbagai organisasi gereja yang adakalanya memiliki kesamaan dalam pemahaman dan ada juga yang bertentangan satu dengan yang lain. Ada yang beranggapan bahwaMatius 24 itu sudah berlaku pada th. 70 Masehi. Ketika Titus kembali menyerang Yerusalem dan menghancurkan Kaabah Herodes dengan berpegang pada Mat. 24:2, sehingga mereka berpendapat bahwa Mat. 24 sudah berlaku pada gereja pertama. Kendatipun gereja pertama adalah permulaan dari

Minggu, 14 April 2013

Renungan Kristen: Bukan hanya di bibir

Bacaan: Roma 15:22-33
=========================================================
Paulus memberi informasi kepada jemaat di Roma bahwa ia dan rekan-rekannya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem (25). Mereka sedang melakukan misi khusus yaitu mengantarkan bantuan dari jemaat nonYahudi di Yunani kepada orang-orang percaya Yahudi yang menderita di Yerusalem (26).
Kata "bantuan" yang digunakan Paulus dalam suratnya ini menginformasikan bahwa persembahan yang dia antar mempunyai nilai yang cukup besar. 2 Korintus 8-9 mencatat secara lengkap rincian tentang persembahan ini. Melalui informasi ini, Paulus memotivasi jemaat Roma untuk turut serta meringankan kesulitan saudara-saudara seiman mereka di Yerusalem.
Melalui persembahan ini Paulus mengingatkan orang-orang percaya nonYahudi bahwa keselamatan yang mereka miliki datangnya dari bangsa Israel. Itu sebabnya mereka memiliki kewajiban moral untuk membantu orang-orang percaya Yahudi yang mengalami penganiayaan karena iman mereka di dalam Kristus. Orang yang kaya didorong untuk membantu orang yang berkekurangan, orang yang kuat haruslah membantu orang yang lemah.
Meskipun berbeda bangsa, orang-orang nonYahudi itu mau menyatakan kasihnya kepada saudara-saudara mereka yang Yahudi. Sebagai saudara seiman, mereka memiliki kerinduan untuk bersama-sama menanggung beban yang saat itu diderita saudara seiman mereka yang berbangsa Yahudi. Dukungan kasih yang dinyatakan melalui pengiriman bantuan ini memperlihatkan kesatuan dan ikatan di antara saudara seiman. Citra Kristus juga nyata di dalamnya.
Hari ini kita diingatkan bahwa di antara saudara seiman memang harus terdapat kasih. Namun, kasih itu jangan hanya di bibir saja melainkan harus juga dinyatakan melalui tindakan praktis dan nyata. Misalnya dengan menyatakan keprihatinan, mendampingi, menolong, atau memberikan dukungan. Dukungan sekecil apa pun mempunyai nilai yang besar bagi mereka yang dibantu. Kepedulian kita setidaknya menunjukkan bahwa kasih di antara saudara-saudara seiman ada dan sungguh nyata.

Selasa, 02 April 2013