Minggu, 05 Mei 2013

Renungan GMIM 5 - 11 Mei 2013

TEMA MINGGUAN:
"Dipanggil untuk men ghadirkan Pendamaian"
TEMA BULANAN:
"Kuasa Kebangkitan Kristus Memberi Kemenangan"
BAHAN ALKITAB:
Zakaria 8:9-19; 2 Korintus 5:11-21

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Arus modernisasi telah membuat orang-orang mengalami pergeseran nilai, kalau bukan dikatakan kehilangan identitas, apalagi di era post-modernisme dengan segala roh-roh zaman sebagai ikutannya, yakni roh individualisme, roh materialism dan roh konsumerisme. Rasanya ayat-ayat Alkitab hamper-hampir tidak bisa menyentuh atau mengubah pola hidup dan pola pikir hedonistis (=kenikmatan) ang begitu merasuk dan mempengaruhi sikap hidup masyarakat yang sangat terkontaminasi dengan roh-roh zaman di atas. Budaya “mapalus” yang begitu luhur dan dibangga-banggakan secara kultural di dalam hidup berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara mulai tergusur dan tersingkir, diganti dengan mentalitas mencari kesenangan pribadi, keluarga, kelompok maupun golongan.

Karena itu, dengan dinafasi oleh tema tahunan "Kehidupan Kristiani Yang Demokratis", tema bulanan: "Kuasa Kebangkitan Yesus Memberi Kemenangan" dan tema mingguan: “Dipanggil Untuk menghadirkan Pendamaian”, diharapkan dapat memotivasi kita: baik sebagai pribadi, keluarga, jemaat dan masyarakat, untuk melihat betapa pentingnya keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus untuk ditransformasikan ke dalam pekerjaan pelayanan yang berdaya guna dan berhasil guna.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
A. ZAKHARIA 8:9-19
     Tahun 539 SM, Koresh raja Persia mengizinkan orang-orang Israel di Babilonia pulang ke Yerusalem untuk merestorasi atau membangun kembali Bait Allah yang pernah dihancurkan oleh tentara Nebukadnezar pada tahun 587 SM. Sesampainya di Yerusalem, mereka segera meletakkan fondasi Bait Allah berfungsi sebagai pusat peribadatan dan pembinaan umat. Mereka agaknya kehilangan semangat untuk membangun karena segala sesuatu harus mulai dari awal lagi.
     Sejarah Israel mengenal tradisi yang mengatakan bahwa melalui Abraham, semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej.12:3). Dalam Deutro Yesaya, orang-orang buangan dilihat sebagai keturunan Abraham (Yes.41:8). Nyanyian-nyanyian tentang Hamba Tuhan berisi semangat misi bangsa-bangsa.
     Trito Yesaya yang berasal dari zaman sesudah pembuangan masih menyuarakan pandangan yang sama. Karena itu, berkaitan dengan pandangan itu muncul konsep tentang Sisa, Hamba Tuhan dan kelompok-kelompok Yahudi Saleh (Hasidim, Farisi, Essenen dan Saduki). Baik nabi Yesaya, terutama Trito Yesaya (Yes.60:21b; 61:3,9); Yehezkiel (36:25,8); dan Zakharia (8:11, 14-17, 20-21), mulai mengembangkan konsep tentang "Sisa yang Setia" atau "Sisa Yang Kembali" (Ibr. Syear Yasyub) menyatakan bahwa akan ada "remnant" atau "sisa" yang diharapkan lebih berkualitas. Karena itu, diperlukan pertobatan umat Allah serta pembaharuan hidup yang bisa mempengaruhi bangsa-bangsa untuk datang dan mencari kemuliaan Tuhan di Yerusalem (Za.8:20-21). Kehadiran "Sisa Yang Setia" bukan karena kesetiaan umat itu sendiri, melainkan karena pengasihan Tuhan semata-mata. Motivasi nabi Hagai (520 SM) dan Zakharia (520-5-18 SM) telah menggugah bangsa Yehuda untuk bangun dari keterpurukannya, terutama untuk merestorasi atau membangun kembali Bait Allah yang hancur di zaman Nebukadnezar (587 SM). Bentuk-bentuk perendahan diri (=puasa) akan diganti dengan sukacita karena umat itu mau berubah dan mengingat kembali visi dan misi mereka.

B. 2 KORINTUS 5:11-21
     Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus, bahwa setiap orang yang mengalami keselamatan di dalam Kristus harus selalu belajar "takut" akan Tuhan. Takut di sini tidak seperti takut hantu, tetapi mengandung arti: hormat, tunduk, taat dan setia kepada Tuhan sebagai Hakim. Karena itu, jemaat Korintus diharapkan bermegah bukan pada hal-hal lahiriah tetapi pada hal-hal batiniah, sebagaimana dikatakan dalam 1 Kor.1:31, "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan". Kalaupun Paulus begitu entusias dan bergairah dalam melayani, itu semua semata-mata karena Tuhan, tetapi dalam menghadapi jemaat ia menahan diri dan memberi kesempatan bagi jemaat untuk bermegah di dalam Tuhan. Justru karena kasih Kristus yang menguasai Paulus, sehingga ia rela menderita kerugian dalam segala sesuatu karena Kristus. Karena Kristus telah mati di kayu salib sebagai "penggantian" dan "pendamaian" untuk semua orang terutama bagi mereka yang bertobat dan percaya kepada-Nya, maka tiap orang wajib hidup untuk kepentingan banyak orang dan bukan hanya berpikir bagi kepentingan diri sendiri. Dengan kematian Kristus, keadilan Allah dinyatakan dan kita dibenarkan. Inilah dasar pengudusan kita (Rm.6:11). Sebelum Paulus diselamatkan dalam perjalanan ke Damsyik, Ia menilai Kristus menurut ukuran manusia, tetapi ketika ia bertobat ia tidak lagi menilai Kristus menurut ukuran demikian. Kita yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus, kita diubah oleh Roh Kudus dan menjadi ciptaan baru. Dan semua perubahan sikap itu datang dari Allah, bukan karena kesanggupan kita untuk berubah. Jadi, setiap orang yang percaya kepada Kristus mendapat tugas mewartakan keselamatan di dalam Kristus tanpa harus mengurangi atau menambahkan hal-hal yang tidak perlu. Sebagai ciptaan baru kita harus belajar mendamaikan diri sendiri, dengan sesama kita, dengan lingkungan hidup, dan dengan Tuhan.

Makna dan Implikasi Firman
     Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa pekerjaan pelayanan Gereja hakikatnya adalah pekerjaan Allah sendiri di dalam Yesus Kristus. Tidak jarang kita terpaku pada: apakah kita sanggup melakukan tugas pelayanan atau tidak? Banyak pekerjaan pelayanan yang kita programkan dan lakukan terkesan "menyerah sebelum bertanding". Bahkan, seringkali orientasi berpikir kita selalu tertuju pada: siapa yang akan membantu kita? Cukupkah dana yang tersedia untuk pembangunan dan pelayanan? Adakah bantuan dari pihak pemerintah atau dari donatur tertentu? Padahal, sekali lagi pekerjaan pelayanan adalah pekerjaan Tuhan sendiri. Karna itu, kualitas pelayanan Gerja harus bertumpu pada basis keluarga-keluarga, dan tidak bergantung pada pihak luar, kendati pihak luar pun penting, Ingat, bahwa Tuhan harus selalu menjadi Kepala Gereja dan Dasar Pelayanan kita dari waktu ke waktu.
     Tidak jarang muncul istilah, "sei reen?" atau "sapa dulu?" atau "sapa kita?" dalam kerja pelayana kita. Kesombongan rohani seperti itu sering membuat kita lupa bahwa pekerjaan kita, baik di dalam gereja, di pemerintahan maupun di instansi lain, termasuk tengah masyarakat, hakikatnya adalah pengejawantahan atau perwujudan dari pekerjaan Allah yang harus kita kerjakan untuk menjawab keberadaan kita sebagai orang-orang yang telah bertobat dan percaya pada pengorbanan Kristus lewat kematian dan kebangkitan-Nya bagi kita.
     Karena itu Pembinaan Warga Gereja harus menjadi motor penggerak utama bagi seluruh warga gereja untuk mampu berpikir inklusif, rasional dan inovatif dalam menghadapi gejolak kemajaun dewasa ini yang sangat dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi dan terjadinya pergeseran nilai yang luar biasa dan makin mengarah pada hal-hal destruktif/merusak tatanan masyarakat "gerejawi" kita.
    Meskipun kemajuan di banyak bidang kehidupan makin marak, tetapi kita harus mampu terus mengikat pinggang, menabung dan tidak membiarkan roh individualisme, materalisme dan konsumerisme mengobrak abrik kehidupan masyarakat kita di masa depan. Peribahasa: "Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna", perlu menginsyafkan kita agar kita mampu mawas diri dengan pelbagai program gereja yang sering banyak berbicara tentang uang, atau kegiatan pesparawi yang hanya berhura-hura dan menghabiskan banyak biaya, dampaknya bagi ibadah-ibadah gereja dan pertumbuhan iman kurang sekali, padahal moralitas manusianya mulai terdegradasi.
     Kita terpanggil untuk membangun kehidupan keluarga yang kuat, baik dari segi jasmani maupun rohani, menghindarkan banyak kekerasan dalam rumah tangga akhir-akhir ini, serta jiwa hedonistik yang luar biasa, hal ini berdampak pada buruknya moral hidup orang percaya, terutama dengan tingginya HIV/AIDS dan masalah trafficking/perdagangan wanita dan anak dewasa ini.
     Gereja harus punya visi dan misi yang jelas, terukur dan bisa mempengaruhi kehidupan berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
     Gereja sedang memasuki persiapan ke arah pemilihan Pelsus untuk periode 2013-2017 nanti, harus lebih memfokuskan perhatian pada tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kuat, handal/tangguh, berkualitas, rendah hati, dan berorientasi pada kepentingan umum. Gereja harus mengajar orang untuk tidak terlibat "money politics" dalam pemilihan Pelsus di depan. Gereja harus yang terdepan dan memberi keteladanan, baik dalam berpikir, berkata dan bertindak, tidak dipergunjingkan orang, tidak bermoral rendah, tidak makang puji, tetapi berjiwa "hamba" yang sungguh-sungguh mau mengabdi kepada Tuhan, Sumber Keselamatan itu sendiri.

PERTANYAAN DISKUSI
1. Apa yang saudara pahami dari dua bagian bacaan di atas?
2. Coba identifikasikan apa yang saudara dapatkan dari masing-masing perikop itu?
3. Bagaimanakah pandangan saudara terhadap gagasan dari dua perikop tersebut dihubungkan dengan realitas hidup di jemaat dan masyarakat saudara?

NAS PEMBIMBING: 1 Petrus 2:9,10

POKOK-POKOK DOA
- Memohon kekuatan Roh Kudus untuk memampukan kemandirian berjemaat.
- Pentingnya Pembinaan Warga Gereja secara terus menerus.
- Persiapan Pemilihan untuk periode 2014-2017
- Hidup jemaat yang perlu diperbaharui dari waktu ke waktu

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: Hari Minggu Bentuk I
Renungan dan Aplikasi Kristen Gratis: Download Aplikasi Kristen Gratis